I grew up in this town, my poetry was born between the hill and the river, it took its voice from the rain, and like the timber, it steeped itself in the forests. -Pablo Neruda

Selasa, 17 Mei 2011

TEARS



Lambat laun, semuanya menjadi jelas. Aku tidak menginginkan air mata ini keluar sia-sia. Tidak sia-sia. Iya. Tidak akan pernah sia-sia. Hanya ada kematian yang dapat menyia-nyiakannya. Sampai semuanya jelas, aku pertama dan kedua yang menyiratkannya.  Sungguh, air mata ini tidak akan pernah kukeluarkan dengan sia-sia. Untuk detik itu, saatnya bagiku unuk tersenyum lebar dengan dua lesung pipit terpahat di ujung bibir horisontal. Kuyakini tanda-tanda alam bahagia, awan putih menebal dan menghitam membentuk nama ‘Nimbus’. Matahari bersinar terang dan memekat gelap tertutup lembutnya udara suram. Angin menyapu seluruh tubuh, menghangatkan setiap inchi urat nadi, membekukan organ dalam dengan sensasi tidak terbayang. Alam sedang bahagia tanpa mengeluarkan air mata. Air mata yang terkadang menyedihkan, menderitakan dan tidak memanusia.


Kalau saja aku ingin air mata ini keluar deras atau setidaknya menetes setitik seperti embun di pagi pekat, hanya ada tiga hal yang akan menjadi alasannya. Ya...tiga hal yang pastinya beralasan untuk mengeluarkan si kekuatan bening bernama air mata itu.

Pertama, saat aku dilahirkan ke dunia yang fana ini. Aku menangis sederas-derasnya dan mengatakan itulah air mata pertama yang tumpah bagi dunia.

Kedua, ketika ajal seolah-olah mendekati dan mengejarku dengan kasar. Ajal adalah hal yang menyenangkan bagi manusia untuk ditakuti. Apalagi ajal mengejarku dengan kekasarannya yang tidak merepresentasikan perdamaian, siapa yang sanggup menahan air mata?

Dan yang terakhir, ketiga, ketika kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam kehidupan yang tak bermakna. Kehilangan sebenarnya bukan sesuatu yang membuatku menangis seperti saat kehidupan meniupkanku ke dunia ataupun kematian menjemputku dengan tiba-tiba. Tapi, kehilangan seseorang yang berharga? Sanggupkah manusia menahan air mata ini tumpah? Setidaknya, setitik air mata akan keluar. Ya...akan keluar juga air mata di hati yang jahat sekalipun, meski setitik kecil embun pagi yang pekat.

TEARS


Ketiganya adalah masa dimana aku harus menitikkan air mata tanpa berkata-kata. Tidak perlu dengan kata-kata. Kejujuran letaknya pada mata dan air mata adalah kata-kata paling jujur di tata surya ini. Karena jujur adalah hal yang tidak pernah akan kuungkapkan dengan mudahnya, aku tidak akan pernah mengeluarkannya. Aku tidak akan mengeluarkan air mata, tidak di depan orang lain, tidak di depan Tuhan bahkan juga tidak di depanmu. Nafas ini harus terus berjalin tanpa isakan yang membuat kesempatan bernafas ini berkurang satu per delapan belas kali. Apalagi air mata sepertinya tidak terlalu indah lagi untuk dipandang, akan tetapi masih tetap sempurna untuk dirasakan tanpa direalisasikan.
Dry your eyes, dry your eyes, life is always hard...


-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar