I grew up in this town, my poetry was born between the hill and the river, it took its voice from the rain, and like the timber, it steeped itself in the forests. -Pablo Neruda

Sabtu, 28 Mei 2011

The Story Behind You


“Kemarin aku lihat kamu di tengah keramaian. Apa benar itu kamu?”

(Setidaknya kamu mengenalku.)

“Lucunya, kamu bagai orang asing di depanku. Nice try to set me down, girl!”

(Tidak pernah terpikirkan olehku untuk membuatmu jatuh. Terlalu percaya diri...)

“Justru kamu yang terlalu percaya diri. Tidak bisakah kamu mengenal seseorang bukan dari sikap saja? Kamu terlalu dini menarik kesimpulan. Atau mungkin ada sesuatu yang menyuarakan tentangku?”

(...)
 
“Speechless? Hahaha...tidak perlu kamu merasa bimbang memberikan pendapatmu tentangku. Aneh!”

(Bisakah kita tidak membahas ini?)

“Kenapa? Kamu takut? Takut terbongkar apa yang ada di hatimu? Santai saja...”

(Sudahlah...aku ingin pergi saja.)

“Silakan! Tapi, jangan harap setelah pembicaraan ini, kamu bisa tidur tenang...”

(Kamu mengancamku?)

“Tidak...”

(Nadamu terdengar mengancam dan kata-katamu menunjukkannya pula!)

“Sudah kubilang...kamu terlalu cepat menilai seseorang...terlalu dini mengambil kesimpulan!”

(...)

“Diam lagi? Masih speechless dan tidak bisa mengakui kalau aku benar tentangmu?”

(Selamat sore!)

“Yaa...teruslah berlari dengan semua keegoisanmu itu. Nice run, baby!”

(...)

“Tidak jadi pergi? Terpatri dengan kata-kataku tadi?”

(...)

“Sebelum kamu berubah pikiran, biar aku ingatkan kamu lagi bagaimana pertama kali aku mengenalmu...aku akan singkap semua yang berada di baliknya. Karena kamu pun perlu tahu hal ini! Aku tidak ingin tertutup denganmu...would you like to listen my words?”

(Just a minute!)

“Hahaha...tidak akan bisa hitungan menit menampung seluruh kata-kataku...aku ini puitis dan oralis. Bisakah waktu menampung seluruh ceritaku? Bisakah kamu menjaminkan bahwa waktu menampung semua kata-kataku? Itulah kamu...membuat dirimu sendiri terjebak oleh waktu. Biarlah waktu merusak peribahasanya sendiri. Biarlah waktu yang mengikuti apa yang kita inginkan...bukan kita yang menginginkan waktu. Have a seat and I’ll tell you my stories! ”

(Sounds like you’re the God in here?)

“Don’t bother the God! I don’t believe the God!”

(Ateism!)

“Emm...darimana aku harus mulai? Oh, ya...di saat kita pertama kali berkenalan? Kamu tahu cerita di balik itu? Ada Tangan yang Tidak Mau Terlihat ikut campur dalam awal ini...awal untuk cerita yang singkat antara aku dan kamu.”

(Tangan yang Tidak Mau Terlihat?)

“Jangan bertanya dia siapa, yang pasti kamu akan mengenalnya dari ceritaku.”

(Baiklah.)

“Baik. Aku teruskan...sejujurnya saat itu aku sedang dalam masa transisi. Berusaha untuk melarikan diri dari hal yang memalukan. Bicaralah aku pada Tangan yang Tidak Mau Terlihat itu. Saat itulah, aku dan dia terpikir untuk mencari jalan keluar dalam melarikan hati ini. Aku menemukan wajahmu dari sekian banyak wajah perempuan yang berserakan di tempat itu. Sebenarnya lucu dan random sekali saat memilih wajahmu. Aku berpikir akan menyenangkan jika bisa melarikan diri dari hal yang memalukan itu. Tangan yang Tidak Mau Terlihat itu membantuku berkenalan denganmu. ‘Sudah kenal dengan Yura?’, begitu tanyanya. Kamu jawab, ‘Sudah...tapi Yura pasti belum kenal denganku.’. Jujur, aku takjub dengan jawabanmu itu seolah aku yang terkenal di matamu. ‘Yura.’, aku menjabat tanganmu. ‘Nada’, namamu itu membuatku teringat Arezzo, Bapak Solmisasi itu. Selanjutnya, hanya seperti itu saja. Menguap seperti air mendidih di dalam ketel yang tidak tertutup. Mengasap seperti hasil pembakaran. Mengabut seperti datangnya senja di Lembah Mandalawangi. Itu pertama kali aku berkenalan denganmu. Sounds like you’ve know whose the Hands-Who-Don’t-Want-to-be-Knowed? Haven’t you?”

(Yeah...sounds like...)

“Baik. Semuanya bermula dari pengaturan-pengaturan yang aku lakukan dengan sedikit campur tangan si Tangan yang Tidak Mau Terlihat. Tapi, sebelumnya lagi...aku tidak mau tertipu untuk kedua kalinya. I have one question at that time...i must know, are you have a boyfriend or a Boy-Whose-You-Like? Dan aku mengatur semuanya...aku tidak ingin tertipu kedua kalinya.”

(Kenapa diam?)

“Memberi kesempatan untukmu berpikir dan menebak, how do I know that you have a boyfriend or not?”

(Tidak semangat untuk berpikir. Cepatlah bercerita! You’re wasting my time!)

“Jika membuang-buang waktumu, untuk apa kamu ada disini sekarang? Pergilah dan bawa rasa penasaranmu itu sampai ke alam baka!”

(Loh? Kok, jadi kamu yang marah?)

“Pantas aku marah! Sikapmu menjengkelkan! Not like you at that time!”

(...)

“Speechless lagi? Atau merasa tidak enak hati?”

(Lanjutkan saja ceritamu. Tidak usah diperpanjang lagi.)

“Aku lanjutkan! Dan berusahalah menjadi pendengar yang baik!”

(Yap.)

“Kamu yang paling awal membuat semuanya berjalan menyenangkan. Menyapaku lebih dulu. Membuatku lebih merasa dianggap. Kamu yang awal membuat aku percaya kalau masih ada wajah yang menyenangkan untuk dibersamakan. Aku tidak bisa dibuat seperti itu. Aku sama sepertimu, terlalu cepat menilai. Tapi, bedanya, aku menilai dan menjadikannya hanya anggapan saja, bagai angin levanter yang berlalu begitu saja dari Daratan Andalusia. Akhirnya, aku memantapkan diri untuk melarikan diri dari masa laluku. Aku membuat rencana bersama Tangan yang Tidak Mau Terlihat itu. Ingat saat aku dan Tangan yang Tidak Mau Terlihat itu mengantarmu pulang? Tidakkah kamu menyangka itu adalah rencana? Yaa, mungkin kamu tahu setelahnya...tapi, aku hanya memastikannya saja. Kamu ingat kan, betapa lugunya kamu hingga terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang aku atur. Kamu menceritakan bagaimana keadaan hatimu dan kehidupanmu. Hahaha...pada saat itu, aku sadar kamu menyenangkan. And you said, you happy with your single life. And you know, at that time...I feel lucky. Setelah itu...semuanya aku atur lagi. Aku harus mendapatkanmu...begitu pikirku saat itu! Keesokannya, kamu ingat kalau aku dan kamu pulang bersama? Disanalah kamu terlihat lebih menyenangkan. Sangat menyenangkan. Kamu seolah sangat mudah diajak berbicara. Tidak seperti komunikasi tanpa lanjutan. Kita banyak berbicara panjang lebar. Memperlihatkan padaku betapa menariknya dirimu, keluargamu. Menunjukkan warna kesukaanmu. Mengesankan bahwa dirimu membuat dunia ini merasa lebih terang setelah kesuramanku. Perlahan tapi pasti, kamu menancapkan kuku-kuku tajammu di bagian kiri tubuhku. Aku merasa dicengkeram oleh wajah menyenangkanmu dan sensasi yang kurasakan adalah tenang dan lucu. Setelah itu, aku tidak mengerti lagi. Keesokan harinya semua masih menyenangkan. Tapi, pulang bersamamu untuk kedua kalinya...aku merasa aneh. Aku merasa ada yang mengganjal. Konversasi terasa sangat kaku dan tidak komunikatif. Aku berusaha menarik panjang lebar topik-topik yang menarik tapi kamu membuatnya menjadi lebih aneh daripada lukisan abstrak tak berbentuk di Museum Louvre. Sumpah! Duduk bersamamu saat itu terasa seperti dalam neraka ribuan tahun! Sangat kaku dan aku tidak mengerti selanjutnya! Yang terjadi selanjutnya, kamu menjadi seolah orang asing, dingin dan seolah aku ini barang kotor di dalam tempat sampah di matamu! Aku bisa menyadarinya, tapi bukan berarti aku sensitif. Bisakah kamu jelaskan padaku?”

(...)

“Hey...aku belum sama sekali menaruh hati padamu. Untuk apa menjauh? Prinsipku adalah I believe what I want to believe! Kalau aku belum percaya dengan apa yang aku inginkan untuk dipercaya, aku tahu bagaimana seharusnya bersikap. Kamu sama seperti teman-teman wanitaku yang lain, tapi sedikit mendapat perhatian lebih dariku! Kalau kamu ingin tahu bagaimana aku bisa menyukai seorang perempuan, bisa aku ceritakan!”

(Tidak perlu...aku rasa aku harus pulang sekarang.)

“Hahaha...pulanglah. Biar aku berbicara sendiri pada angin dan langit malam.”

(Baik. Bye...)

“Bye, Nada...fuuuh...”

(...)

“...”

(...)

“...”

(...)

“...”

(I need some rest.)

You must…

(We have...actually...I don’t have any feelings with you.)

“If you don’t have any feelings with me, just make it simple. My life still go on even without you...I just ask you to make it simple.”

(I make it simple as you must to do.)

“You can’t make what I must to do! What I must to do is what I want to do!”

(...)

“Go out and enjoy you rest of time! Your life will be changed and you’ll never find a word with my name in your life...I guarantee you. If there’s me in your life, like you’ve said...you make it simple as I must to do.”

(...)

“Oke, bye...”

(...)

“...”

(Yura...)

“...”

(Yura...)

“...”

(Yura...)

“...”

-THEN THE STORY WAS ENDED-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar