I grew up in this town, my poetry was born between the hill and the river, it took its voice from the rain, and like the timber, it steeped itself in the forests. -Pablo Neruda

Rabu, 16 Maret 2011

Fantasy Sonata Fever First Movement

Inilah proyek pertama dari sekian banyak ide yang bisa kusampaikan...di tengah angin malam dan kesunyian dingin di lembah Gunung Galunggung. Aku pernah membuat ribuan partitur di dalam otak dan terdengar cukup indah di telinga. Musik memberikanku kesempatan untuk berpikir bahwasanya aku manusia berperasaan...dan aku akan tetap seperti itu. Seperti ketenangan seorang Chopin di atas tuts-tuts megah bernuansa klasik.

Indah...dan ini salah satu proyek saya...menciptakan musik melalui kata-kata...melalui sentuhan tulisan, bukan suara...semoga menyukainya...dan tokoh yang kugambarkan bernama Igor Rytsar Rachaminoff...

Igor Rytsar Rachaminoff memulai ritual sebelum menekan kedelapan puluh delapan tuts piano di hadapannya. Tangan kanannya mengangkat ke atas dan rambut panjangnya jatuh tergerai menutupi dahi dan matanya. Dia meresapi udara kosong yang selalu dielu-elukannya bersama Nada Yurin Karkaroff, putri bangsawan Tsar Karkaroff. Dia memejamkan kedua matanya yang hitam legam, memandangi kegelapan dan kesuraman yang dirasakannya bersama Nada. Penonton yang berjumlah empat ratus orang di dalam Gedung Leviansky Orchestra's Hall, Kazan, Rusia itu dipaksa untuk menahan nafas selama beberapa detik oleh keeleganan cara Igor Rytsar Rachaminoff memulai permainannya. Mereka sudah menanti-nanti permainan Igor Rytsar Rachaminoff yang disebut-sebut SleduyushchiÄ­ Shopena atau The Next of Chopin. Wajah Igor Rytsar Rachaminoff yang sendu tersibak saat hentakan pertama pada tuts-tuts piano Fazioli. Semua penonton berdecak kagum dan mengartikan setiap sentuhan Igor Rytsar Rachaminoff sebagai suatu kepakan sayap malaikat Jibril. Hentakan pertama menampilkan wajah Nada Yurin Karkaroff dalam artian keterkejutan. Yaa, Igor Rytsar Rachaminoff memang sangat terkejut saat mengenal Nada pertama kali. Igor tidak menyangka dirinya mencintai seorang wanita sempurna dengan keindahan hati yang luar biasa. Dia tidak bisa memungkiri lagi bahwa sonata ciptaan yang dimainkannya ini tertuju padanya...tertuju pada wajah Nada Yurin Karkaroff. Nada pertama yang terdengar adalah C minor...ini bukan partitur pertama Igor yang dimulai dengan nada C minor, tetapi hampir seluruh repertoir yang dibawakannya di resital kali ini dimulai dengan nada C minor. Arti dari C minor itu sendiri bagi Igor adalah keanggunan Nada yang dilambangkan dengan C minor, chord yang penuh keindahan sekaligus kemuraman. Disinilah first movement dari sonata karya Igor Rytsar Rachaminoff ini dimulai...


Igor menekankan pada first movement ini dengan akord yang berat dan muram. Setiap pendengar membayangkan apa yang terjadi di balik movement ini. Seolah ada gambaran atau layar besar yang membuat mereka bertanya-tanya apa maksud garis kelam dan kelabu di wajah Igor? Setiap denting menahan tiap nafas mereka. Para penonton dipaksa untuk terus menerka-nerka, gerakan indah jemari Igor yang tidak putus-putusnya menekan tuts-tuts itu bertubi-tubi. Penekanan nada-nada minor menjadikan layar hitam itu tetap menjadi layar hitam. Tidak berubah ataupun menerang. First movement yang disebut dengan Allegro Tristezza itu mengalun-alun dan membuat semua wajah yang mendengar berkerut dan mengingat masa lalu suramnya. Penguasaan akord yang mayoritas nada minor itu menjadikan suasana gedung diselimuti kesedihan yang dirasakan Igor Rytsar Rachaminoff. Di tengah pergantian akord berat di F minor ke C minor, layar hitam kelam itu tiba-tiba menampilkan wajah teranggun yang dikenal semua penonton adalah anak wanita satu-satunya dari keluarga besar bangsawan Karkaroff. Semua orang tahu siapa inspirasi dari lagu ini. Semua orang tahu kenapa dia menjadi inspirasi di lagu ini. Semua orang tahu bahwa Nada Yurin Karkaroff sangat mencintai Igor Rytsar Rachaminoff dan sebaliknya. Semua penonton seolah terhisap masuk ke dalam dunia kesedihan Igor. Mereka ikut menunduk dan bahkan ada yang menangis. Rupanya, permainan di first movement dari sonata ini saja sudah membuat semua mata berurai air. Sampai akhirnya, tangga nada berhenti secara berantakan namun menyakitkan kembali ke C minor. Di akhir movement inilah, Igor Rytsar Rachaminoff sempat menggumulkan nada Bes minor ke ruang sempit antara C minor dan F minor. Hasil permainan ini sangat membuat raut wajah semua orang bermuram durja, meresapi tiap denting yang dihasilkan jemari jenius Igor Rytsar Rachaminoff. Dan inilah Allegro Tristezza...


-To be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar